Posted by: abusilmi | 12 October 2008

My First Day in Doha

Perjalanan semalaman Jakarta - Doha emang sangat melelahkan. Aku baru tau yang namanya jetlag itu seperti apa. Sebetulnya sih perbedaan waktunya cuma 4 jam, terus perjalanannya ke barat lagi. Jadi seharusnya waktu tidur di pesawat cukup. Tapi, lha gimana lagi, bagaimanapun juga mumet ini datang juga. Untung ada obat andalan, “Axe Oil” alias minyak kampak.

Setelah tidur dan mandi, aku pergi ke restaurant untuk breakfast. Nglihat makanannya, koq aneh-aneh gini. Pertama cuma ngambil roti bakar. Mana cacing di perut udah “krucuk-krucuk”, ga bisa kompromi lagi. Terus aku pesan nasi (plus makanan yang ga aneh-aneh) sama waitre-nya. Eh, ternyata waitre dan chefnya orang Indonesia. Jadi ada temen ngobrol.

Beberapa kali aku ditanyain oleh orang-orang yang ber-face melayu, sebagai waitre, tukang laundry, mechanic. Are u Indonesian/Malaysian/Phillipino? Mengenali orang melayu emang sangat gampang. Di Qatar ini sgala macam orang ada, Qatari/arab (dengan khas gamis putihnya), Caucasian, Malayan, Negro, dan yang paling banyak, Indian/Pakistani.

Ngomong-ngomong soal hotel, hotel yang aku tempati ini bintang-5 lho. Tapi sayang aku belum mengexplore fasilitasnya kemana-mana. Pasalnya aku terlanjur beli voucher internet terusan 24 jam seharga 100 QR. Jadi sayang banget kalo ga dimanfaatin. Paling mondar-mandirnya antara kamar-restaurant aja.

Di depan hotel ada sebuah masjid. Arsitekturnya khas timur tengah. Aku sempatkan untuk sholat Maghrib dan Isya disitu.Bangunannya kelihatannya kecil, cuma kalo udah didalam terasa luas. Karpetnya merah dan tebal, banyak sujud disini kayaknya ga bakal membuat jidad jadi hitam. Dipojok kiri kanan ada tumpukan mushaf. Dan yang paling keren, masjidnya full AC (ya iya lah, kalo model kipas angin kayak di Indonesia malah tambah kepanasan). Dan suara imamnya itu loh, subhanallah, merdu banget. Serasa sholat di Masjidil Haram (bayangin dulu gapapa kan?). Oya, disini untuk mengisi waktu antara adzan dan iqomat, jamaahnya pada tilawah sendiri-sendiri. Suaranya ga dikencengin, mbacanya dalam hati saja. Terus yang qomat juga langsung imamnya sendiri (hayo yang di CCB, pada rebutan qomat biar ga jadi imam). Cacat ga ada halangan untuk beribadah. Di dalam masjid disediain kursi plastik (kayak yang di warung kaki lima) untuk orang yang mau sholat dengan duduk.

Mengisi waktu antara sholat Maghrib dan Isya, aku jalan2 di seputaran masjid dan hotel. Kebetulan bertemu sama orang Malaysia (namanya Azid) yang nginep di hotel itu juga. Kita ngobrol2 banyak soal kerjaan, Qatar, dll. Karena dia baru seminggu disini, jadi dia juga belum tau banyak. Yang menarik, waktu kita mau nyebrang jalan. Uhh susahnya, karena jalannya gedhe (6 jalur) dan lebar, jadi mobil-mobil disini larinya kenceng banget. Harus nunggu sekitar 10 menit buat nyebrang, itupun harus pake lari-lari.

Malamnya, aku dijemput oleh 2 orang ex-TPPI yang udah duluan di Qatar. Kita jalan2 ke Carrefour sekalian nyari SIM card sini. Karena aktivasi international roamingku gagal, aku ga bisa komunikasi kemana-mana. Nah, saran buat yang mau nyusul, bawa aja kartu Mentari/IM3 yang lebih gampang aktivasinya, kalo Telkomsel mah susah disini. Sampai di Carrefour udah malam (sekitar jam 9) tapi masih rame banget. Katanya sih baru tutup jam 12 malam (busyet dahh). Mallnya sekelas ama Senayan City gitu. Tapi bedanya disini ga ada cewek yang pake youcansee dan rok mini gitu, yang banyak malah “Aisyah”nya Ayat-Ayat Cinta, he..he.. Alhamdulillah, mata ini jadi lebih terjaga.

SIM Card disini namanya Hala Card. Operator HP dimonopoli oleh Q-Tel (BUMN telekomunikasi). Terus kalo mau dapet SIM Card, harus nunjukin passport dulu, register on-line, and ga bisa milih-milih nomer kayak di Indonesia. No-nya cuma 7 digit, jadi ga repot ngapalinnya. Harganya 200 QR (500 ribu) dapet pulsa 100 QR. Bandingkan dengan harga SIM Card di Indonesia yang diobral kayak kacang goreng. Oya, yang lucu petugas Q-Tel (laki-laki lengkap dengan gamisnya) begitu tau aku orang Indonesia langsung bilang “Aku Cinta Kamu” (mungkin bisanya bahasa Indonesia cuma itu, he..he..)

Sempet survey harga barang-barang elektronik di Carrefour. Murahan di Indonesia sih, tapi cuma selisih 100-200 ribu. Cuma karena gaji orang2 Indonesia disini lipat 3x daripada di tanah air, jadi berasa murah aja. Saran dari temenku, kalo belanja disini harganya jangan diconvert ke rupiah, terlalu banyak mikir malah ga bakal kebeli. Udah yang dipengenin, beli aja.

Malam yang indah. Sepanjang jalan (Hotel-Carrefour) lihat gedung-gedung mewah berarsitektur modern dengan cahaya yang berkilauan. Lahan-lahan taman kota yang hijau jadi tongkrongan orang-orang yang mau menghabiskan malam. Mobil2 mewah ber-cc tinggi berseliweran di jalan-jalan kota. Qatar,.. oh Qatar.

Posted by: abusilmi | 12 October 2008

Akhirnya nyampe juga di Qatar (part 2)

Aku terbang dengan Qatar Airways. Kalo lihat di websitenya sih, pesawatnya lux banget. Tapi setelah berada di dalamnya, biasa2 aja tuh. Ya standar pesawat luar negeri. Tempat duduknya sederet ada 8 (2 samping kiri, 4 tengah, 2 samping kanan). Dan kebetulan aku dapet di pojok kanan, lumayan bisa lihat pemandangan.

Kalo di website, sebuah LCD TV ada di belakang jok depan kita, tapi kenyataannya TVnya hanya ada beberapa di atap kabin. Untuk entertainment, ada beberapa channel musik yang bisa dipilih. Tempatnya ada di handle tangan kita. Tercatat ada 18 channel, mulai dari musik arab, india, jepang, hip hop, barat klasik. Tapi dari semuanya itu yang lebih familiar di kuping, adalah murottal di channel 6.

Makanannya ga aneh-aneh. Buat dinner (makan tengah malam tepatnya) masih pakai katering Indonesia. Nasi lauk ayam. Begitu pula breakfastnya (nah yang ini sebetulnya makan shubuh) masih pake nasi uduk dengan telur suwir. Jadi dilidah masih bisa ketrima. Hanya saja (mungkin karena ga terbiasa) aku susah ngeluarinnya (blow down). Udah bolak-balik ke lavatory, tetep aja ga mau keluar. Alhasil, perutku makin ga enak aja rasanya.

Semuanya on-time. Berangkat on-time jam 23.35. Transit di Singapore 2 jam. Dan nyampe di Doha jam 6.15 waktu sini (selisih 4 jam). Jadi perjalanan sekiar 11 jam. Kebayang kan pegelnya. Mau tidur ga bisa, udah gitu ACnya dingin banget lagi. Ah, dasar wong ndeso.

Nah, sampai di bandara Doha, kami berempat ketemu sama orang Indonesia lainnya yang sepesawat. Beberapa diantaranya ke Q-Chem dan ke Qatargas. Di terminal kedatangan kita dijemput oleh petugas bandara (dengan membawa papan nama) dan diarahkan ke ruangan tertentu (bertuliskan Al Maha Services) bukan ikut antrian imigrasi. Kalo di Indonesia, kita pasti sudah berpikiran macam-macam (kayak TKW-TKW yang disuruh keluar melalui terminal 3). Tapi ternyata kita diminta menunggu di waiting room dan untuk urusan imigrasi diurus oleh petugas bandara tanpa harus repot-repot ngantri. Wah, emang enak ya jadi expatriat.

Urusan imigrasi selesai, claim bagasi terus keluar untuk nyari penjemput. Ternyata sudah di-arrange dari pihak perwakilan hotel yang ada di bandara. Dan aku langsung meluncur ke hotel.

Ahhh, hari ini terasa panjaaanngg sekali. Waktunya “kungkum” buat bersih-bersih (ngeto’i ndesone) dan take a sleep.

 

Posted by: abusilmi | 11 October 2008

Akhirnya nyampe juga di Qatar (part 1)

Sohibs,

Akhirnya aku nyampe juga di Qatar. “The dream land for operator”, aku menyebutnya. Maklum wong ndeso yang satu ini baru pertama kalinya menginjakkan kakinya di luar negeri.

Oya ceritanya darimana ya? Dari bandara Cengkareng aja deh. Kebetulan aku bertemu dengan 3 orang Indonesia lainnya. 2 org ke Qatalum, 1 org ke Q-Chem. Di International Departure Terminal 2, aku belum bisa masuk, karena passportku dibawa ama pihak agent. Pelajaran yang bisa dipetik, jangan kasih original passport anda ke pihak agent kalo buat ngurus2 document. Beri aja copy atau scannya. Selain takut hilang atau “ketlisut”, kayaknya agen sengaja menahan passport biar kita ga pergi2, terutama kalo cabut kerja di perusahaan lain pake agen lain.

Aku udah sempet ketar-ketir karena orang dari agen ga datang2 juga. Padahal pesawatku berangkat jam 23.30, dan mesti check in 2 jam sebelumnya. Untungnya aku dapet contactnya sehingga bisa aku telponin terus buat konfirmasi kedatangannya. Dan akhirnya bapaknya dateng jam 21:30.

Kita didampingi saat check-in dan bayar fiskal. Bayangkan kalo tanpa assistant dari agen, urusannya bakal ribet banget. Harus ngisi ini ngisi itu. Belum lagi lobby-lobby politik yang dilakukan dari pihak agen, karena kadang ada oknum bandara yang memanfaatkan situasinya. Bukan rahasia lagi.

Nah, gerbang terakhir di bandara adalah imigrasi. Kalo passport udah distempel aman sudah. Yang dikhawatirkan karena visaku adalah visa kerja. Yang lain juga sama sih, tapi untungnya visanya temen2ku berbahasa arab. Kemungkinan lolos imigrasi lebih besar. Sedang punyaku bahasa inggris. Saran dari agen, kita harus berpencar. Jangan kelihatan satu rombongan. Soalnya kalo kena satu bakal kena semua. Nah, yang jadi tumbal adalah aku. Jadi aku masuk imigrasi terakhir. Dan satu lagi pesan dari agen, siapin “duit receh” kalo-kalo harus minta “dibantuin” sama pihak imigrasi.

Dengan langkah yang mantap walau jantung deg-degan, kita laksanakan strategi. 3 org temenku udah lolos. Aku pandangi lagi passport dan visa (yang aku sengaja lipet-lipet), “Ya Allah, aku niatkan ini sebagai hijroh di jalanmu”. Dan akhirnya, THOK, kestempel juga passportku tanpa ada masalah.

Oya, satu orang temenku kena masalah di waiting room, karena membawa 3 botol gedhe (@ 500 ml) cairan pembersih contact lens. Dari pihak bandara hanya memperbolehkan membawa 1 botol saja di kabin, sedangkan 2 lainnya harus masuk bagasi. Repot juga ngurusinnya.

Gimana ceritanya aku di dalam pesawat, ikuti kisah selanjutnya

To be continued,…

Tags:

Posted by: abusilmi | 8 September 2008

Rumah Baru

“Welcome to Blogdetik.com. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!”

Kalimat pertama yang menyambutku memasuki rumah (virtual) baruku. Sementara rumah lamaku tidak aku tinggalkan begitu saja, sayang rasanya bila harus dirobohkan begitu saja sedangkan aku membangunnya dengan susah payah.

Senang rasanya berada di komunitas blogdetik. Pertama karena aku cinta produk dalam negeri, walaupun blogdetik sendiri ibarat perpanjangan tangannya wordpress. Kedua, menjadi bagian dari komunitas maya situs berita online terbesar di Indonesia (meski aku sendiri merasa terayu oleh blogstarnya detik). Ketiga, nyaman menulisnya karena tidak diblokir admin, he..he..

So, untuk teman2 baruku di blogdetik.com, semoga kedatangan tetangga barumu ini dapat diterima sabagai warga baru. Semoga keberadaanku dapat memberikan manfaat untuk teman-teman sekalian. Nyuwun pangestunipun.

Wassalamu’alaykum Warohmatullahi Wabarokatuhu

Tags:

Categories